Postingan

Si gadis

Pagi ini, kau terjaga dengan kepala berat dan tulang seakan lungkah. Jarum jam menunjuk angka sepuluh—angka yang terlalu tinggi untuk bisa disebut pagi. Rombongan orang yang berlalu lalang terpukau dengan gadis yang sedang duduk murung di taman itu, walau terpukau, mereka tetap tidak berani mengusik diamnya. Salah seorang diantara dari sekian banyaknya orang yang hanya berlalu lalang itu, maka datanglah seorang Ibu yang memberanikan diri mengahampiri gadis itu, untuk menanyakan perihal apa ia seperti itu di hari ini, karena ia sudah mengulangi murungnya sejak tiga hari yang lalu. “Hai… Nak mengapa kau nampak merenung seperti ini, sikapmu begitu mencolok sekali, kemari nak.” Ibu itu mengajak bicara ke tempat terdekat dari taman itu agar tidak terlalu menarik perhatian banyak orang. “Nak… Kenapa sayang? Apa yang terjadi padamu? Apa yang membuatmu seperti ini? Saya sering melihatmu duduk termenung di taman ini, kenapa nak?” Dengan segenap perhatian, Ibu itu tetap didiamkan. Gadis itu teta...

Kemaliq Ranget

 Kemaliq Ranget Menelusuri dari googlemap, ada sebuah lokasi yang sedikit membingungkan, yakni pura Ranget. Setahu saya, di tempat tersebut tidak ada masyarakat yang beragama selain Islam. Lalu mengapa ada bangunan pura di tempat itu. Akhirnya saya mencoba menelusuri lebih jauh dengan datang langsung ke lokasi, dan mewancarai Kepala Dusun Ranget, Bapak Septori Wirawan.    Benar saja. Pak Kadus dengan tegas mengatakan bahwa warganya tidak ada yang beragama selain Islam. Persoalan pura Ranget menurutnya, merupakan konflik berkepanjangan antara masyarakat setempat sebagai pemilik dengan masyarakat pendatang yang mengaku memiliki sebidang tanah di seputaran kemaliq.  “Masyarakat setempat dan para ahli waris tidak pernah menjual tanahnya, tapi anehnya mereka sudah memiliki sertifikat tanah. Anehnya lagi, tanah tersebut juga dimiliki oleh sebuah perusahaan air minum daerah.” Ungkap pak kadus dengan wajah muram.   Kasus ini menjadi kian rumit dikarenakan banyaknya...

Kemaliq Ranget - Suranadi

 kemaliq yang berasal dari kata maliq yang memiliki arti keramat atau suci. Bagi masyarakat Sasak, kemaliq memiliki makna yang sangat sentral. Bukan hanya bagi diri pribadi tetapi juga kehidupan sosial. Selain itu masyarakat sasak memandang kemaliq sebagi satu kesatuan penanda kehidupan di gumi paer (tanah air).  Secara kosmologis kemaliq merupakan penanda energi yang berasal dari Gunung Rinjani. Sehingga secara fisik kita melihat berupa tempat mata air. Mata air ini berguna untuk dapat menghidupi masyarakat sekitarnya baik untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari dan pengairan sawah. Karena pentingnya kemaliq (sumber mata air) ini masyarakat sangat mengkramatkannya, hal ini bertujuan agar tidak dirusak oleh masyarakat. Sumber mata air tersebut berupa Ai’ mual atau kemaliq yang dikeramatkan oleh orang Sasak pada saat itu. Segala cara dilakukan oleh penguasa Bali saat itu untuk dapat menguasai mata air/Kemaliq tersebut. Dari cara yang paling halus yaitu dengan memberikan penanda b...