Kemaliq Ranget - Suranadi

 kemaliq yang berasal dari kata maliq yang memiliki arti keramat atau suci. Bagi masyarakat Sasak, kemaliq memiliki makna yang sangat sentral. Bukan hanya bagi diri pribadi tetapi juga kehidupan sosial. Selain itu masyarakat sasak memandang kemaliq sebagi satu kesatuan penanda kehidupan di gumi paer (tanah air). 

Secara kosmologis kemaliq merupakan penanda energi yang berasal dari Gunung Rinjani. Sehingga secara fisik kita melihat berupa tempat mata air. Mata air ini berguna untuk dapat menghidupi masyarakat sekitarnya baik untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari dan pengairan sawah. Karena pentingnya kemaliq (sumber mata air) ini masyarakat sangat mengkramatkannya, hal ini bertujuan agar tidak dirusak oleh masyarakat.

Sumber mata air tersebut berupa Ai’ mual atau kemaliq yang dikeramatkan oleh orang Sasak pada saat itu. Segala cara dilakukan oleh penguasa Bali saat itu untuk dapat menguasai mata air/Kemaliq tersebut. Dari cara yang paling halus yaitu dengan memberikan penanda bangunan berupa pure disekitarnya, agar pada tahap selanjutnya kemaliq ini akan diklaim menjadi mata air bagian dari pure.

Sumber mata air yang ada di Kemaliq ini diyakini sebagai tempat hilangnya (moksa) seorang penyiar Agama Islam Wetu Telu yang bernama Raden Mas Sumilir dari Kerajaan Medayin.

Keberadaan ajaran Islam Wetu Telu di daerah Lingsar ini berasal dari Jawa melalui Bayan, atas instruksi Sunan Pengging dari Jawa Tengah pada permulaan abad XVI. Islam Waktu Telu ini adalah sinkritisme Hindu – Islam. Sumber ajarannya berasal dari ajaran Sunan Kalijaga. Sinkritisme ini dalam kepercayaan mistik merupakan kombinasi dari Hindu (Adwaita) dengan Islam (Sufisme), dengan ajaran pantheisme. Sehingga animisme masih berlaku terus dan mistik dari segi agama bisa diterima secara sukarela oleh semua penduduk Lombok yang masih paham animisme. Ajaran inilah yang kemudian dinamakan Wetu Telu. Menurut ajaran Hindu, orang yang beragama lain tidak boleh dipaksa menerima ajaran agama Hindu. Tetapi yang  dipaksa oleh raja Bali adalah ajaran bahwa semua orang harus berterima kasih kepada Tuhan dengan agama, kepercayaan dan caranya masing-masing.



Komentar

Posting Komentar